Sudahkah Pendengaran Bayi Bunda di-screening?

Siapa bilang tes pendengaran tidak berlaku bagi bayi baru lahir? Kenyataannya, di Amerika Serikat (AS) saja, sekitar 24.000 bayi terlahir dengan kondisi hearing loss (kurang mampu mendengar secara normal) setiap tahunnya.‘’Padahal, sebagian besar diantara mereka merupakan bayi-bayi yang terlahir dari orang tua dengan pendengaran normal,’’ demikian seperti yang tertulis dalam situs babyhearing.org. Untuk itulah AS telah mewajibkan agar bayi baru lahir dilakukan newborn hearing screening (tes pendengaran). Hal ini berlaku umum untuk semua bayi. Nama program tesnya Universal Newborn Hearing Screening (UNHS). Bahkan American Academy of Pediatrics telah merekomendasikan semua bayi dites pendengarannya, sedini mungkin –sebelum bayi dibawa pula ke rumahnya.

 

Bagaimana dengan Bayi di Indonesia?

Menurut Dr. Ronny Suwento, Sp.THT, dokter spesialis THT (telinga-hidung-tenggorokan), Komunitas THT RSCM, diIndonesia saat ini tengah digalakkan pemeriksaan pendengaran pada bayi bahkan dari usia 2 hari. Ada sejumlah alasan mengapa tes pendengaran pada bayi baru lahir penting. Salah satunya adalah kelainan pada pendengaran, semakin cepat dan tepat intervensi dilakukan, hasilnya akan semakin baik.

 

Tes Pendengaran

Tes pendengaran pada bayi secara garis besar terdiri dari deteksi, diagnosis pasti, dan habilitasi (intervensi). Deteksi idealnya dilakukan pada bayi usia 2 hari atau sebelum satu bulan. Nama tesnya Oto Acoustic Emission (OAE). Bila pada tes OAE hasilnya pendengaran bayi dalam kondisi normal (Pass), maka Anda bisa berlega hati. Kecuali jika sikecil memiliki faktor resiko, meski hasilnya normal (Pass), sebaiknya tetap dipantau perkembangan bicaranya (speech development) dan pemantauan audiologi sekurang-kurangnya tiap 6 bulan selama 3 tahun. Sebaliknya, jika hasil OAE menunjukan ada kecurigaan kelainan (Refer) maka tes akan dilanjutkan dengan BERA (Brainstem, Evoked, Response, Audimetry). Keduanya (OAE dan BERA) disebut Gold Standard Newborn Hearing Screening. Perlu diketahui adalah, jika deteksi sudah dapat dilakukan sejak bayi berusia 2 hari, maka diagnosis pasti baru dapat dilakukan pada saat bayi berusia 3 bulan –langkah ini diambil jika diindikasikan bayi memiliki masalah pendengaran. Selanjutnya, ketika bayi berusia 6 bulan proses habilitas (intervensi) dapat dimulai.

Menurut penelitian Yoshinaga–Itano (USA, 1998), bila gangguan pendengaran/ketulian sudah diketahui sebelum usia 3 bulan, selanjutnya diberikan habilitasi pendengaran mulai usia 6 bulan, maka pada saat anak berusia 3 tahun perkembangan wicara dan bahasanya dapat mendekati anak yang pendengarannya normal.

 

Apakah Bayi Saya Beresiko?

Menurut American Joint Committee on Infant Hearing Statement (1994 ) pada bayi usia 0 – 28 hari ada beberapa faktor resiko yang harus dicurigai kemungkinan adanya gangguan pendengaran, yaitu :

 

1. Riwayat keluarga dengan tuli kongenital (sejak lahir)

2. Infeksi pranatal : TORCH ( Toksoplasma, Rubela, Cytomegalo virus, Herpes )

3. Kelaianan anatomi pada kepala – leher

4. Sindrom yang berhubungan dengan tuli kongenital.

5. Berat badan lahir rendah (BBLR) < 1500 gram

6. Meningitis bakterialis

7. Hiperbilirubinemia ( bayi kuning) yang memerlukan transfusi tukar

8. Asfiksia berat ( lahir tidak menangis)

9. Pemberian obat ototoksik

10. Mempergunakan alat bantu napas /ventilasi mekanik lebih dari 5 hari (ICU)

 

Oleh karenanya, screening pendengaran pada bayi baru lahir dibedakan menjadi;

1. Universal Newborn Hearing Screening (UNHS) : Berlaku pada semua bayi baru lahir, sebelum bayi meninggalkan rumah sakit

2. Targeted Newborn Hearing Screening: Khusus pada bayi yang mempunyai faktor risiko terhadap ketulian. Pasalnya, bayi yang memiliki salah satu faktor risiko di antara sepuluh faktor resiko di atas memiliki kemungkinan gangguan pendengaran 10,1 kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak memiliki faktor risiko. Tak hanya itu, jika terdapat 3 faktor risiko maka kemungkinan terjadinya ketulian meningkat menjadi 63 kali. Meski demikian, Dr. Ronny mengingatkan bahwa meski bayi Anda memiliki salah satu atau beberapa faktor resiko di atas, bukan berarti pasti akan mengalami kelainan pendengaran.’’Beberapa penelitian melaporkan dari sejumlah bayi yang mengalami ketulian hanya sekitar 40%-50% saja yang memiliki faktor risiko,’’ tuturnya.

 

Apa Dampak Paling Umum Kelainan Pendengaran?

Gangguan pendengaran atau tuli sejak lahir akan menyebabkan gangguan perkembangan bicara, bahasa, kognitif dan kemampuan akademik. ‘’Dari segi ekonomi pun, penelitian di AS pada tahun 2003 menunjukkan bahwa seorang yang mengalami ketulian sejak lahir harus mengeluarkan biaya tambahan sebesar 417.000 dolar AS selama hidupnya,’’ kata Dr. Ronny. Dampak yang merugikan tersebut, lanjutnya, harus dicegah atau dibatasi melalui program deteksi dini ketulian.

 

Jangan Sedih

Rina Jayani, sekretaris Yayasan Indonesia Mendengar memberikan sarannya pada Anda yang menemukan bahwa si kecil memiliki kelainan pendengaran. ‘’Jangan bersedih. Meski tidak mudah, tetapi ini bukan akhir dari segalanya,’’ ucapnya. Dengan dukungan orang tua, alat bantu, dan terapi yang tepat, buah hati Anda dimungkinkan untuk hidup mandiri dan memiliki kemampuan berbicara mendekati anak normal.

 

 

 

Sumber : Parents Guide Online

 

 

2 responses

  1. […] Bunda? – Kumpulan artikel dunia ibu dan anak Sudahkah Pendengaran Bayi Bunda di-screening? January 29, 2009Menyelamatkan ASIP jika Listrik Mati December 30, 2008Posisi dan Perlekatan […]

  2. Saya seorang ayah yg memiliki bayi usia 7 bulan bernama Regina. Pada saat mangandung istri saya terkena virus Rubela., sehingga saat ini Regina terindikasi mengalami gangguan pendengaran pada telinga kiri, sedangkan telinga kanan normal (telah dilakukan test OAE pada sblm plg dari Rumkit & BERA pada usia 3 & 6 bulan). Pertanyaannya mungkinkah Regina memiliki hidup normal tanpa bantuan alat dengar atau operasi (mengandalkan telinga kanan)

    BunDit :
    Saya bukan DSA atau Dokter THT pak. Hanya seorang ibu yang berusaha concern dengan kesehatan anak, khususnya anak saya sendiri. Lebih baik bapak ajukan pertanyaan Bapak ke dokter THT ya. Semoga dik Regina bisa tertangani dengan baik dan bisa hidup normal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: